Kamis, 29 Maret 2012

Revival/Kebangkitan (sebuah kisah perjalanan)

Lahir dan tumbuh di sebuah kampung, di wilayah kabupaten Kendal, kampung yang tidak jauh dari patahan-patahan bumi di pulau jawa, yang bila di situ mengalir sungai akan terbentuk air terjun. Tumbuh di lingkungan yang masih memegang tradisi-tradisi dan etika jawa. 

Mengenang masa kecil itu seperti tersesat di sebuah taman bermain tanpa membawa uang saku.Hanya bisa melihat, ikut tertawa, dan kadang tanpa alasan aroma dari masa kecil itu sendiri seperti hadir merangsang otak kita untuk memainkan banyak adegan yang berkesan dalam hidup kita. Menghadirkan kepedihan dan kadang haru, ketika kita memandang diri sendiri, dan membandingkan diriku waktu itu dan diriku saat ini. Sepertinya postingan perdana ini tidak akan membahas tentang itu. 

Mengenal Grunge..

Bagi saya sendiri kata grunge pertama kali terdengar sekitar tahun 1998 waktu itu kelas I SMA (salah satu SMA di kota Semarang), ketika salah seorang teman di kelas adalah seorang penggemar Nirvana. Udjok namanya, kalo saya tidak salah ingat di motor butut Udjok ada sticker grunge. Namun bagi saya sendiri ketika era Grunge booming di kota Semarang, saya malah tidak respek atau bahkan acuh dengan hal itu. "Trend itu menyebalkan" seperti itu pemikiran penulis saat itu. Dan menjadi jujur akan hal ini seperti memakan nasi basi, karena pada akhirnya setelah merefleksikan dan membaca beberapa info tentang Grunge dari media dan membandingkan dengan diri saya sendiri ternyata saya malah membaptis diri saya sendiri untuk menjalani falsafah hidup Grunge itu.

Tahun 2002 ketika saya pindah ke kota Yogyakarta untuk kuliah, saya mulai mengenal Pearl Jam. Hanya dari iseng ketika saya waktu itu kerja paruh waktu di warnet, saya mulai browsing dan download mp3 lagu Pearl Jam yang waktu saya SMA sering mengudara di acara Midnight Slow Rock di salah satu radio swasta di Semarang. Last Kiss. Namun ketika itu ada suggestion untuk lagu-lagu lain, dan saya mulai mendengarkan lagu Black, dan mulailah racun music aneh Grunge menghinggapi diri saya seperti virus (bukan Viru Shastrabudhi - 3 idiot). Mulailah saya mengkoleksi kaset Pearl Jam tahun itu, kebetulan tidak susah untuk mencari kaset Pearl Jam di toko Kaset. Tahun-tahun itu bagi saya Walkman adalah harta saya yang paling berharga, ketika saya bepergian saya selalu membawa tas khusus untuk memboyong kaset2 Pearl Jam itu kemanapun saya pergi. Walau hari-hari saya tidak begitu cerah namun lantunan lagu-lagu Pearl Jam sudah menjadi hiburan yang sangat istimewa dan murah. 

Nirvana saya nikmati dari kaset Nirvana Unplugged, Alice In Chains juga saya kenal dari kaset Alice In Chains Unplugged, Soundgarden saya kenal dari Album The Best mereka,. Foo Fighters pun begitu. Musik-musik dari band-band seattle itu meracuni saya dengan sukses, falsafah hidup yang terrefleksikan dari lirik-lirik Pearl Jam yang mendominasi pikiran saya ketika saya merenung. Masa growing pain itu saya lewati dengan musik dan lirik band-band tersebut.

Menjadi Musisi

Musik dan bernyanyi sudah menjadi bagian dalam hidup saya sejak saya kecil, saya teringat cerita Ibu saya ketika saya berumur tiga atau empat tahun, ketika itu malam Natal, dan orang tua saya mengajak saya ke Gereja untuk mengikuti perayaan Natal. Ketika seluruh umat menyanyikan lagu Malam Kudus (sebuah lagu rohani) saya bernyanyi sendiri lagu Indonesia Raya. Ketika Ibu mengingatkan saya hanya beralasan "aku isone lagu kuwi kok (jawa red. "aku bisanya lagu itu kok"). Ketika saya ujian seni Musik waktu SD, Guru kelas saya waktu itu merequest saya untuk menyanyikan lagu "Gugur Bunga", padahal itu bukan lagu wajib atau pilihan untuk ujian. Musik memang sudah menjadi bagian dari keluarga saya, Bapak saya adalah waktu muda dan belum beristri juga punya Band yang entah namanya, beliau seorang pemain gitar dan biasa memainkan lagu-lagunya Koes Plus. Ibu saya seorang Dirijen untuk koor lingkungan Gereja dan koor Dharmawanita Kecamatan dan mampu membaca not (walau kemampuan itu tidak saya warisi). Ibu saya juga seorang penulis lagu, waktu itu beliau pernah memenangkan lomba cipta lagu Korpri untuk tingkat Kabupaten Kendal (kebetulan ini menurun pada saya). 

Saya sendiri seorang penulis lagu dan penyanyi untuk sebuah band, dan saya banyak terinspirasi oleh musisi Grunge dalam berkarya, walau saya sendiri tidak yakin kalau lagu saya itu bernuansa Grunge. Proses pembelajaran dalam menulis lagu saya mulai ketika saya masih SMA waktu itu saya menciptakan lagu pertama dan saya sudah lupa bagaimana liriknya, namun judulnya adalah "Tukang Becak", lagu itu terinspirasi dari ayah teman saya yang bekerja sebagai pengemudi becak. Proses-proses selanjutnya saya memperdalam pembelajaran dalam menulis lagu dengan metode sharing, sharing dengan seorang teman saya yang juga seorang musisi Agus Susmanto/Agus Alhabis. 

Waktu itu saya sangat sering bertemu dan berdiskusi tentang musik dari teman saya itu, dari dialah saya mulai mengenal The Doors. Kebetulan teman saya itu dengan bandnya (Alhabis) selalu men-cover lagu-lagu The Doors. Pengalaman spiritual dan refleksi-refleksi spiritual saya jalani kala itu untuk memantapkan saya dalam proses penciptaan. 
Proses penciptaan itu tetap berjalan, dan lagu-lagu yang saya tulis (atau mungkin seperti senandung) dan rekam secara sederhana sudah ratusan jumlahnya. Lagu-lagu itu beberapa sudah saya rekam bersama band saya Saralaughs. Dan banyak yang masih saya simpan. 

Itulah sekelumit gambaran yang tidak jelas tentang saya.

best regard

Greg. Galih Ardhiputra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar